3 Tipe Belajar Anak

Tipe Visual Orang visual akan lebih memahami melalui apa yang mereka lihat. Warna, hubungan ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Tipe auditori Orang dengan tipe ini akan lebih memahami sesuatu melalui apa yang mereka dengar. Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata. Musik, irama, dialog internal dan suara menonjol pada tipe auditori. Kinestetik Orang dengan tipe kinestetik belajar malalui gerak, emosi dan sentuhan. Modalitas ini mengakses pada gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik.
Etos Dan Komitmen Sebagai Budaya

“Pendidik dan tenaga pendidikan yang Profesional dan bermartabat” merupakan salah satu ciri yang selalu melekat dalam seorang yang professional. Berangkat dari hal itu seorang yang professional mampu menunjukan kompetensinya. Bagi seorang guru, sertifikat profesi adalah sebuah keharusan sebagai ciri bahwa dirinya adalah orang yang kompeten/profesional. Namun sekarang hal ini menjadi hal yang dirasa sangat memberatkan dan sulit karena seseorang harus menempuh uji kompetensi awal lebih dahulu sebelum pada akhirnya di nyatakan lulus setelah mengikuti diklat atau PLPG selama beberapa hari di sebuah lembaga pergurun tinggi. Sebanyak 250.000 guru disaring dari 286.000 guru untuk memenuhi kuota pada tahun ini. Syarat mendapatkan sertifikasi memang cukup ketat, apabila melihat pada tujuan pemerintah adalah ingin memastikan supaya siswa diajar guru yang professional dan kompeten. Tujuan ini mungkin akan efektif bila diterapkan pada guru-guru muda karena bila diterapkan pada guru yang sudah berusia lanjut apalagi mendekati pensiun ceritanya akan sedikit berbeda. Terlebih jika menilik pada ketercukupan anggaran yang ada, rasanya masih jauh dari ideal. Terlepas dari efektif tidaknya peraturan yang memayungi dan ketercukupan dana untuk membiayai program peningkatan mutu itu, kita sebagai bagian dari bangsa ini yang harus maju tentu kita sangat setuju bila anak-anak kita dididik oleh mereka yang memang profesional. Dari pelaksanaan uji kompetensi awal yang dilaksanakan pada 25 Februari lalu dirasa oleh sebagian dari mereka yang menjalani sebagai suatu yang mempersulit dan memberatkan untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi. Seorang guru yang belum berhasil harus mengulang kembali beberapa kali hingga lulus. Keberhasilan bukanlah proses yang tiba-tiba. Tetapi keberhasilan itu sebenarnya sudah dimulai dengan perilaku yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Karena keberhasilan adalah hasil ungkapan dan ekspresi keseharian dari sikap dan perilaku yang dijalankan sebagai sebuah budaya kerja, etos dan komitmen. Orang yang berhasil/sukses adalah orang yang memang sudah melakukan segala sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang sukses/berhasil, bukan melakukan budaya orang gagal. Mereka yang berhasil adalah mereka yang telah memulai lebih awal budaya kerja, etos, dan komitmen yang tinggi terhadap bidang tugasnya. Dan pasti mereka pantas mendapatkan tunjangan yang telah dijanjikan oleh pemerintah. Yang terpenting sekarang adalah memulai sebuah kebiasaan yang akan menjadi pola kerja yang membudaya dalam kerangka peningkatan ke arah yang labih baik lagi. Mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai sekarang. Keberhasilan, sukses adalah suatu hal yang harus diciptakan terus menerus.
Membudayakan Menulis

Banyak cara untuk menjadi pandai dan cerdas namun tidak lepas dari menulis dan membaca seperti disampaikan oleh Praktisi komunikasi, Aat Surya Syafaat dalam kesempatan wisuda Universitas Mathla’ul Anwar Banten, Sabtu (25/2). Diakui atau tidak menulis di Indonesia belum menjadi budaya, karena masyarakat kita lebih kuat pada budaya lisannya. Banyak indikator bahwa kita belum terbiasa dengan budaya menulis. Satu hal yang mengindikasikan rendahnya kebiasaan menulis adalah bahwa surat edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada 27 Januari terkait kewajiban menulis karya ilmiah dalam jurnal ilmiah masih mendaptakan sambutan pro dan kontra. Beberapa kalangan masih merasa bahwa anjuran itu akan mempersulit. Padahal jika memaksakan sedikit kemauan kita untuk memulai, mencoba dan menyikapi positif pada anjuran itu tentu kita akan mendaptkan suaatu hal yang positif dimasa yang akan datang. SEMUA ORANG BERBAKAT MENULIS Kebiasaan menulis dalam pengertian menulis tulisan ilmiah merupakan hal yang sangat sulit dilakukan bagi seorang yang tidak memiliki motivasi menulis ataupun seorang pemula. Karena kebiasaan menulis ibarat menciptakan kebiasaan baru. Walaupun sebenarnya kita juga sudah memiliki bakat. Kita lancar menulis surat pada pacar yang tanpa disadari hasilnya bahkan berlembar-lembar, atau chating dengan suami, istri atau teman. Kita hanya sedikit berlatih memaksakan untuk memulai dan memulai kadang sangat sulit untuk dilakukan. MENGGALI MOTIVASI UNTUK MENULIS Menumbuhkan motivasi menulis sangatlah penting karena tanpa keinginan yang kuat seseorang tidak akan menemukan tujuan untuk memulai menulis. Posisikan menulis sebagai suatu ibadah sama seperti melakukan ibadah-ibadah yang lain. Sadari bahwa menulis juga merupakan perjuangan. Perjuangan menginspirasi orang lain untuk juga menuangkan ide-idenya lewat tulisan-tulisanya. MENJADI KAYA DENGAN MENULIS Banyak bukti bahwa menulis juga bisa menjadi kaya. Lihat saja Joanne Kathleen Rowling, penulis Harry Potter. Tulisanya tercetak labih dari 103 juta eksemplar. Bisa dibayangkan berapa kekayaan JK. Rowling dari royalty novelnya. Bagi guru menulis dapat membantu kegiatan belajar mengajar selain bermanfaat sebagai pengembangan profesi sebagaimana diamanatkan dalam Permenegpan No. 16 tahun 2009. Guru sebagai praktisi pendidik memiliki potensi menulis yang sangat besar. Banyak hal bisa dijadikan sebagai dasar penulisan, seperti misalnya mengangkat permasalahan yang dialami dalam kelas. Yang ironis adalah justru guru itu sendiri menjadi perbincangan, pembahasan dan menjadi obyek penulisan karena guru kurang mampu menulis itu sendiri. Harapanya dengan adanya Permengpan No. 16 tahun 2009 guru kedepan tidak akan mendapati stigma itu lagi. Banyak sekali bahan yang bisa dijadikan referensi penulisan, dari internet, surat kabar, dan juga dari buku-buku. Bayangkan bila semua guru dapat menyusun buku pembelajarannya sendiri, menulis cerita dan celoteh yang mengasikan, alangkah indahnya pembelajaran yang dibawakanya dalam kelas. Tentu akan lebih memotivasi pribadi guru itu sendiri sekaligus pada siswa-siswanya. Lebih jauh lagi, apa yang bisa dibanggakan dari seorang guru? Salah satunya adalah karya-karyanya dalam bentuk tulisan atau buku. dari seorang penulis apalagi jika hal itu adalah seorang guru. Buku adalah karya monumentaI. Idealnya seorang guru tidak menggunakan buku-buku karya orang lain dalam kegiatan pembelajarnya, tetapi karya mereka sendirilah yang seharusnya digunakan dalam pembelajaran dalam kelas sehingga bisa dibayangkan bagaimana menariknya situasi kelas dengan bahan pembelajaran yang disusun oleh guru itu sendiri. Pada akhirnya peningkatan kemampuan guru menulis diharapkan akan menjadi salah satu penyumbang peningkatan mutu pendidikan di Indonesia yang masih tertinggal jauh dari Negara-negara lain. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi teman-teman untuk memulai menuangkan ide gagasanya dalam berbagai tulisan yang bermanfaat bagi anak-anak didiknya, dan kita semua. by ed1sa@sept_2017
Pesan Moral Sebuah Operasi Matematika

4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 4 x 6 ataukah 6 x 4? Itulah kehebohan tentang operasi perkalian dalam matematika sekolah dasar baru-baru ini yang muncul dimedia social. Berawal dari pekerjaaan rumah seorang anak SD yang didapat dari gurunya dan dalam penyelesaiannya dibantu oleh saudaranya yang sedang duduk dibangku kuliah. Sang saudara tidak terima karena nilai yang didapat oleh adiknya ternyata tidak memuaskan dan mengunggah dimedia sosialnya dan melibatkan para professor dari LPTK ternama dalam perdebatan perbedaan konsep itu, menurut versi sebuah media online. Sang Kakak tidak terima karena menurut sang kakak bahwa bagaimanapun prosesnya yang penting hasilnya sama yaitu 24. Dari kacamata sang guru konsep operasi matematika seperti diatas tentu mengandung makna dan nilai filosofi yang harus dipetik. Harus ada moral value yang harus ditanamkam kepada semua anak didiknya untuk dijadikan bekal dalam kehidupan sosialnya dimasa depanya. Dan inilah yang sedang kita rasakan bersama betapa bangsa ini bergitu rapuh bukan lain karena anak bangsa ini sudah mulai melupakan nilai-nilai moral dari sebuah tindakan. Kurikulum 2013 yang baru diterapkan dan baru berlangsung seumur jagung mengisyaratkan bahwa pendidikan saat ini sudah bergeser dan menekankan pada perubahan sikap diantaranya sikap spiritual dan sikap sosial selain dua sikap lain yaitu pengetahuan dan ketrampilan. Ada dua versi pemahaman tentang konsep operasi perkalian dalam matematika. Satu sisi mengatakan bahwa 4 x 6 adalah sama dengan 6 x 4, satu sisi mengatakan bahwa hal itu beda. Dikaitkan dengan ‘tujuan’ kita mempelajari sesuatu maka kita akan tahu perbedaan dari pola-pola diatas, kapan harus menuliskan 4 x 6 dan 6 x 4. Saat kita sakit dan pergi ke dokter kita akan menerima resep minum obat dari dokter. Lazimnya sang dokter menuliskan dalam resepnya atau dalam label obatnya agar kita meminun obatnya 3 x 1 sehari. Pengertiannya pagi meminum satu obat, siang meminum satu obat dan sore atau malam satu obat lagi, itulah artinya 3 x 1. Anda bisa membayangkan apa jadinya orang yang sedang sakit kemudaian mendapat lima jenis obat. Apabila pemahmanya terbalik maka pasien akan memakan 15 butir obat dalam satu waktu, matilah si pasien. Dalam sebuah kegiatan pembelajaran bukan hanya berorientasi pada hasil yang harus benar tetapi juga memahami apa makna dari sebuah operasi atau seperti diatas. Artinya adalah mengapa seseorang melakukan dengan cara tersebut tentu ada makna atau value yang dikandung didalamnya. Lebih jauh lagi secara prinsip kurikulum 2013 kegiatan pembelajaranya merupakan proses yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik menjadi kompetensi yang diharapkan. Lebih lanjut, strategi pembelajaran harus diarahkan untuk memfasilitasi pencapaian kompetensi yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum agar setiap individu mampu menjadi PEBELAJAR MANDIRI sepanjang hayat. Di dalam pembelajaran, peserta didik didorong untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi atau kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan jaman tempat dan waktu ia hidup. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu kegiatan pembelajaranya berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, peserta didik didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide-idenya. Guru memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan mengembangkan suasana belajar yang memberi kesempatan peserta didik untuk menemukan, menerapkan ide-ide mereka sendiri, menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru mengembangkan kesempatan belajar kepada peserta didik untuk meniti anak tangga yang membawa peserta didik kepemahaman yang lebih tinggi, yang semula dilakukan dengan bantuan guru tetapi semakin lama semakin mandiri. Bagi peserta didik, pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi “aktif mencari tahu”.